Minggu, 08 Maret 2020

*MENARIK REZEKI DARI KEANEHAN PERMEN (  OF CANDY)*


Pernah ga sahabat merasa ada keanehan dari sebuah permen?mungkin sebagian menjawab belum?mungkin ada yang bingung anehnya dimana?hayoo dimana coba anehnya.. waduh sudah ada yang tanya mbah google..hehe

Ok.. tanpa membuat sahabat bingung langsung akan saya ilustrasikan misalnya saya memiliki sebuah permen di saku saya namun permen ini tanpa memiliki bungkus lalu saya memberikan permen tanpa bungkus itu kepada saahabat, apa reaksi sahabat?

Tentu sebagaian besar dari sahabat akan menolak dengan berbagai macam alasan,, betul betul betul!!hehe. lalu saya memiliki satu permen lagi yang memiliki bungkus, bagus lagi bungkusnya kemudian saya berikan permen tersebut kepada sahabat, apa reaksi sahabat? Tentu sahabat dengan senang hati mau menerimanya, namun apa yang terjadi pada bungkus tersebut sahabat membuangnya… ya sahabat membuangnya..?

hai helloooo mau sahabat itu apa sih.. tadi saya beri permen tanpa bungkus sahabat ga mau meneriman sahabat menolaknya tapi sekarang saya beri permen yang ada bungkusnya sahabat buang bungkusnya,, heyy sebenarnya apa sih maunya?hehe!! jangan terlalu di dramatisir ya sahabat.. hoho. Di situlah telah keanehannya sahabat sekalian.

Kemuadian Apa yang bisa kita ambil pelajaran pada keanehan permen ini dalam kaitannya menarik rezeki?

 Ternyata pelajaran yang dapat kita ambil adalah bahwasannya rezeki itu datang membawa bungkus sama halnya sebuah permen, bungkusnya kita buang permennya kita makan disitulah konsep rezekinya. Tetapi kebanyakan dari kita tidak mau menerima permen yang tanpa bungkus artinya mau menerima rezekinya tapi ga mau menerima bungkus dari rezeki tersebut?apa bungkus dari rezeki yang dimaksud itu?

 Bungkus tersebut adalah Ujian, Cobaan, Kesulitan, Masalah dan lain-lain yang kita tidak sukai dan tidak kita harapkan padahal dibalik itu tersimpah rezeki yang tidak disangka-sangka yang kita ibaratkan sebagai sebuah bungkus permen.

Banyak contoh orang yang sukses usahanya setelah kebangkrutan, banyak cerita orang jadi kaya raya setelah mendapatkan musibah, banyak orang yang naik kelas sosialnya setelah datangnya permasalahan dan lain sebagainya. Mereka semua berhasil karna mau menerima bungkusnya, mereka mau bertahan dengan keimanan dan keikhlasan terhadap masalah, ujian, cobaan yang dihadapinya.

Mereka senantiasa berkata ketika mendapatkan ujian “ Ya Allah ini adalah ujian dariMu, Aq percaya dan yakin Engkau akan memerikan solusi bagiku dan aku yakin ada kebaikan yang tersembunyi dibalik semua ini” atau “Ya Allah terima kasih atas Ujiannya semoga dengan Ujian ini saya lebih dekat dengan Mu dan menjadi orang yang lebih baik” wihhh kereeen pokoknya..!!bukan malah sebaliknya “Ya Allah kenapa Kau berikan Cobaan ini kepada hamba apa salah hamba Ya Allah” atau “ Ya Allah kenapa engkau siksa aku dengan ujian ini aku ga sanggup lagi ya Allah” hadehh parah inimah,,dan banyak contoh kalimat lain yang skeptis terhadap Allah, ini membuktikan bahwa seseorang ga mau menerima bungkus permen, ga mau menerima bungkus dari sebuah Rezeki yang sebenarnya membawa hikmah dan kebaikan.


So pada akhirnya dari uraian diatas saya secara pribadi mengajak kepada sahabat sekalian secara bersama-sama untuk belajar.. inget ya belajar karna saya tau dan memahami untuk ikhlas dan tabah serta positif thingking terhadap sebuah ujian itu tidak mudah tapi bukan berarti kita tidak bisa, ingat bahwa dibalik ujian, cobaan, masalah tersebut menyimpan sebuah kebaikan, menyimpah rezeki dari Allah SWT layaknya bungkus dari sebuah permen.

Ok sahabatku sekalian diberi rizeki yang melimpah dari Allah dan menjadi pribadi-pribadi yang lebih sukses. Aamiin
Continue reading

DAHYATNYA NASEHAT LUQMAN

Nasehat Lukman

Satu-satunya manusia yang bukan nabi, bukan pula Rasul tapi kisah hidupnya diabadikan dalam Al Qur’an adalah Lukman Al Hakim. Kenapa, tak lain, karena hidupnya penuh hikmah.

Suatu hari ia pernah menasehati anaknya tentang hirup.
Anakku, jika makanan telah memenuhi perutmu, maka akan matilah pikiran dan kebijkasanaanmu. Semua anggota badanmu akan malas untuk melakukan ibadah dan hilang pulalah ketulusan dan kebersihan hati. Padahal dengan hati bersih manusia bisa menikmati lezatnya berdzikir.
Anakku, kalau sejak kecil engkau rajin belajar dan menuntut ilmu. Dewasa kelak engkau akan memetik buahnya dan menikmatinya.
Anakku, ikutilah engkau pada orang orang yang sedang menggotong jenazah, jangan kau ikuti orang-orang yang hendak pergi ke pesta pernikahan. Karena jenazah akan mengingatkan engkau pada kehidupan yang akan datang. Sedangkan pesta pernikahan akan membangkitkan nafsu duniamu.
Anakku, aku sudah pernah memikul batu-batu besar, aku juga mangangkat besi-besi berat. Tapi tak pernah kurasakan sesuatu yang lebih berat daripada tangan yang buruk perangainya.
Anakku, aku sudah merasakan semua benda yang pahit. Tapi tak pernah kurasakan yang pahit dari kemiskinan dan kehinaan.
Anakku, aku sudah mengalami penderitaan dan bermacam kesusahan. Tapi aku belum pernah merasakan penderitaan yang lebih susah daripada menanggung hutang.
Anakku, sepanjang hidupku aku berpegang pada delapan wasiat para nabi:

Kalimat itu adalah:

1.          Ingat Allah selalu.

2.          Jika kau beribadah pada Allah, jagalah pikiranmu baik-baik.

3.          Jika kau berada di rumah orang lain, maka jagalah pandanganmu.

4.          Jika kau berada ditengah tengah majelis, jagalah lidahmu.

5.          Jika kau hadir dalam jamuan makan, jagalah perangaimu.

6.          Ingatlah maut yang akan menjemputmu.

7.          Lupakan budi baik yang kau kerjakan pada orang lain.

8.          Lupakanlah semua kesalahan orang lain terhadapmu.


Continue reading DAHYATNYA NASEHAT LUQMAN

KEJADIAN DIKERETA

Kejadian di Kereta"

Suatu hari seorang prajurit beserta komandannya naik kereta api menuju markas besar mereka di luar kota.

Karena tidak ada tempat duduk lain yang tersisa, maka mereka pun duduk berhadap-hadapan dengan seorang wanita muda cantik dan neneknya. Tak berapa lama setelah itu kereta pun memasuki sebuah terowongan.Kontan saja keadaan menjadi gelap. Tiba-tiba terdengar suara ciuman yang diikuti oleh suara tamparan. Setelah kereta api tersebut keluar dari terowongan, keempat orang tadi duduk dengan tenangnya tanpa berbicara sedikit pun. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.Sang nenek berpikir dan berkata kepada dirinya sendiri, "Sangat memalukan bahwa prajurit muda itu mencium cucuku, tetapi saya senang karena akhirnya ia ditampar olehnya."Sang komandan pun larut dengan pikirannya. "Saya tidak pernah menyangka kalau anak buahku satu ini berani mencium gadis cantik itu, tetapi wanita itu pasti tidak suka. Buktinya ia menampar. Hanya sayang, saya yang kena."Wanita muda itu pun berpikir dalam hatinya, "Pasti Sang Komandan itu ingin menciumku, tapi salah sasaran sehingga mencium neneku, hingga neneku menamparnya. Dasar hidung belang...!

Si prajurit muda justru terlihat tersenyum puas dengan muka penuh kemenangan. Ia berkata kepada dirinya sendiri,"Hidup itu indah, ketika seorang prajurit seperti saya mempunyai kesempatan untuk menampar komandannya sendiri... He he"

(Ketika kereta melewati trowongan, prajurit mencium tangannya sendiri, dan menampar komandannya)



~~~

Sahabatku, Semoga anda tertawa hari ini... ^_^

Ada hikmah menarik dari cerita ini. Yakni ilmu "kebatinan"

Maksud ilmu "kebatinan" ini bukan ilmu magic, akan tetapi prasangka. Saya memiliki teman yang selalu memakai ilmu "kebatinan" tersebut. Ketika ada masalah, yang dilakukan dia hanya membatin dalam hatinya saja. Jarang sekali dikomunikasikan. Sehingga tak jarang apa yang diprasangkakan tidak sesuai dengan kenyataan. Sehingga membuat orang lainpun berperasangka macam-macam. Seperti kisah diatas. Mereka hanya menebak-nebak, bahkan berperasangka buruk kepada seseorang. Sehingga timbul presepsi jelek atas prasangkaanya. Padahal prasangka tersebut tidak benar.

Sahabat, jauhilah prasangka. Sebab prasangka itu membutakan hati. Engkau tak akan bisa melihat kebaikan pada diri orang lain, seberapa benderang pun kebaikan itu. Sebab mata kitalah yang telah tertutup oleh hitamnya prasangka. Yang tampak hanyalah sisi buram dari setiap orang, setiap peristiwa, bahkan terkadang juga Tuhan. Lalu kita ini menjadi manusia yang sombong dan berjalan di atas keangkuhan. Meskipun kita sendiri merasa telah berada di jalan yang benar.

Jadi komunikasi dan berfikir positif adalah solusinya. Karena tanpa komunikasi, niat baik bisa menjadi keburukan. Contohnya, ketika kita berniat berbuat baik memijat suami/istri kita yang terlihat capek. Tapi tanpa adanya komunikasi, kita bisa salah.Yang kita pijat ternyata pas kena bisul dibadannya. Hmm... Pasti akan terasa sakit... ^_^. Niat baik belum tentu diterima baik, tanpa adanya komunikasi.
Continue reading KEJADIAN DIKERETA

MASIHKAH ENGKAU DURHAKA KEPADA IBUMU??

Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya
Suaminya sudah lama meninggal karena sakit
Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya.
Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi

Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang, Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan: “Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi

Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati”

Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya

Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap
Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan dijatuhi hukuman pancung
pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari
di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi

Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan “Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosa nya”


Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan
Tapi keputusan sudah bulat, anakknya harus menjalani hukuman

Dengan hati hancur, ibu kembali ke rumah Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan

Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong2 manyaksikan hukuman tersebut Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan nasibnya

Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba

Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang

Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada
Saat mereka semua sedang bingung, tiba2 dari tali lonceng itu mengalir darah Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat

Dengan jantung berdebar2 seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah

Tahukah anda apa yang terjadi?

Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah
dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi,
dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng

Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata
Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan

Menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng Memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya
Continue reading MASIHKAH ENGKAU DURHAKA KEPADA IBUMU??

KARENA SEBUTIR KURMA

Karena sebutir korma

Hanya Kerana sebutir kurma
Selesai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqsa.
Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Haram.
Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya.
Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa. 4 Bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali. Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.
"Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT," kata malaikat yang satu.
"Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram," jawab malaikat yang satu lagi..
Ibrahim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya.
"Astaghfirullahal adzhim" Ibrahim beristighfar.
Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.
Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda. "4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang ?" tanya Ibrahim.
"Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma" jawab anak muda itu.
"Innalillahi wa innailaihi roji'un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?". Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat.
"Nah, begitulah" kata ibrahim setelah bercerita, "Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?".
"Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang.
Saya tidak berani mengatas nama kan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya." "Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu."
Setelah menerima alamat, ibrahim bin adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim.
4 bulan kemudian, Ibrahim bin adham sudah berada dibawah kubah Sakhra.
Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap.
"Itulah ibrahim bin adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain."
"O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu.. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain.
Sekarang ia sudah bebas."
Pada hadits yang lain beliau bersabda; 'Siapa yang merampas hak orang Islam dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan dia masuk neraka dan mengharamkannya masuk surga. Seorang laki-laki bertanya, walaupun sedikit ya Rasulullah? Nabi menjawab, walaupun sebatang kayu sugi.'

(Riwayat Muslim).
Continue reading KARENA SEBUTIR KURMA

JANGAN MARAH

"Jangan Marah"

Beberapa bulan yg lalu di meja pemesanan kamar hotel Memphis, saya melihat suatu kejadian yg bagus sekali, bagaimana seseorang menghadapi orang yg penuh emosi.



Saat itu pukul 17:00 lebih sedikit, dan hotel sibuk mendaftar tamu-tamu baru. Orang di depan saya memberikan namanya kepada pegawai di belakang meja dengan nada memerintah. Pegawai tsb berkata, "Ya, Tuan, kami sediakan satu kamar 'single' untuk Anda."



"Single," bentak orang itu, "Saya memesan double." Pegawai tsb berkata dg sopan, "Coba saya periksa sebentar." Ia menarik permintaan pesanan tamu dari arsip dan berkata, "Maaf, Tuan. Telegram Anda menyebutkan single. Saya akan senang sekali menempatkan Anda di kamar double, kalau memang ada. Tetapi semua kamar double sudah penuh."



Tamu yg berang itu berkata, "Saya tidak peduli apa bunyi kertas itu, saya mau kamar double."



Kemudian ia mulai bersikap "anda-tau-siapa-saya," diikuti dengan "Saya akan usahakan agar Anda dipecat. Anda lihat nanti. Saya akan buat Anda dipecat."



Di bawah serangan gencar, pegawai muda tsb menyela, "Tuan, kami menyesal sekali, tetapi kami bertindak berdasarkan instruksi Anda."



Akhirnya, sang tamu yg benar2 marah itu berkata, "Saya tidak akan mau tinggal di kamar yg terbagus di hotel ini sekarang --- manajemennya benar2 buruk," dan ia pun keluar.



Saya menghampiri meja penerimaan sambil berpikir si pegawai pasti marah setelah baru saja dimarahi habis2an. Sebaliknya, ia menyambut semua dengan salam yg ramah sekali "Selamat malam, Tuan."



Ketika ia mengerjakan rutin yg biasa dalam mengatur kamar untuk saya, saya berkata kepadanya, "Saya mengagumi cara Anda mengendalikan diri tadi. Anda benar2 sabar."



"Ya, Tuan," katanya, "Saya tidak dapat marah kepada orang seperti itu. Anda lihat, ia sebenarnya bukan marah kepada saya. Saya cuma korban pelampiasan kemarahannya. Orang yg malang tadi mungkin baru saja ribut dg istrinya, atau bisnisnya mungkin sedang lesu, atau barangkali ia merasa rendah diri, dan ini adalah peluang emasnya untuk melampiaskan kekesalannya."



Pegawai tadi menambahkan, "Pada dasarnya ia mungkin orang yg sangat baik. Kebanyakan orang begitu." Sambil melangkah menuju lift, saya mengulang-ulang perkataannya, "Pada dasarnya ia mungkin orang yg sangat baik. Kebanyakan orang begitu."

Continue reading JANGAN MARAH

JANGAN LUPA BERDOA

JANGAN LUPA BERDO’A
 

Tiada sesuatu pun yang kau lihat menyisakan keceriaan.
Tinggal Allah saja yang mengaruniakan harta dan anak.


Aku telah menikah lebih dari tujuh tahun. Alhamdulillah, semua yang kuinginkan dapat kupenuhi. Aku sudah mapan dalam pekerjaan dan rumah tanggaku. Aku tidak mengeluhkan sesuatu pun kecuali perasaan bosan karena aku dan isteriku belum dikaruniai anak. Perasaan bosan itu mulai meliputi diri kami.
Aku telah banyak periksa ke dokter-dokter. Aku telah berusaha dengan penuh kesungguhan, bahkan aku sudah sering pergi ke berbagai tempat di dalam negeri maupun di luar negeri. Setiap kali aku mendengar tentang dokter yang ahli dalam bidang kesuburan, aku selalu datang untuk berkonsultasi.
Berbagai cara telah banyak yang kami lakukan, dan berbagai obat pun telah banyak yang kami konsumsi. Tapi, tidak ada manfaatnya.
Kebanyakan obrolanku bersama isteriku berkisar tentang dokter Fulan, apa yang ia katakan dan apa yang kami harapkan. Pengharapan itu berlangsung selama setahun atau dua tahun. Tahap-tahap pengobatannya sangat lama.
Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa faktor kemandulan itu ada pada diriku. Dan sebagian yang lain mengatakan bahwa yang mandul adalah isteriku ……
Dalam keadaan bagaimanapun, hari-hari kami berlalu dengan agenda mencari dan mencari jalan keluar dari masalah ini.
Sehingga kecemasan mengenai anak menguasai perasaan kami. Meskipun aku berusaha untuk menghilangkan perasaan tersebut dari isteriku, namun bagaimanapun ia pasti merasakannya.
Banyak sekali pertanyaan.
Ada yang bertanya kepadanya, “Apa yang dia tunggu?” Seolah-olah perkara ini ada di tangannya.
Ada yang memberi saran untuk periksa ke dokter Fulan. Si Fulanah telah periksa kepadanya dan berhasil mendapatkan anak. Demikian juga si Fulanah.
Demikianlah, lingkungan di sekitar isteriku memiliki andil yang besar dari pertanyaan-pertanyaan itu.
Tidak ada seorang pun yang berkata kepada kami, kenapa kami tidak menghadap kepada Allah dan berdo’a kepada-Nya dengan do’a yang benar?
Tujuh tahun telah berlalu. Sementara kami menjulurkan lidah kami di belakang para dokter dan meninggalkan berdo’a.
Kami telah meninggalkan bermunajat kepada Allah.
Pada suatu sore ….
Aku menyebarangi jalan raya. Kulihat seorang buta yang hendak menyebrangi jalan. Kutuntun tangannya. Kami telah menyebrang di lajur pertama dari jalan tersebut. Kami berhenti di tengah-tengah jalan.
Kami menunggu kendaraan yang berlalu dari arah lain.
Dia mendapat kesempatan untuk bertanya kepadaku setelah mendo’akanku dengan taufik dan kesehatan,
“Apakah kamu sudah menikah?”
Aku menjawab, “Sudah.”
Kemudian ia bertanya, “Apakah kamu sudah memiliki anak?”
Aku menjawab, “Allah belum menaqdirkan hal itu, Sudah tujuh tahun kami menunggu jalan keluar.”
Kemudian kami melanjutkan menyebrangi jalan. Lalu kami pun akan berpisah. Ketika aku hendak mengucapkan salam perpisahan kepadanya, ia berkata kepadaku, “Hai anakku!, aku dulu juga pernah mengalami apa yang kini kamu alami. Lalu aku terus menerus berdo’a di setiap kali shalat:

رَبِّ لاَ تَذَرْنِي فَرْدًا وَ أَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِيْنَ
“Ya Rabbku! Janganlah Engkau biarkan aku sendiri, Engkaulah sebaik-baik yang mewarisi.”
Alhamdulillah, sekarang aku memiliki tujuh orang anak. Lalu dia mengenggam tanganku seraya berkata, “Jangan lupa berdo’a!”
Aku benar-benar membutuhkan nasehat itu. Aku telah mendapatkan sesuatu yang hilang. Kukabarkan apa ynag kualami tadi kepada isteriku. Selanjutnya perbincangan kami bertambah hangat.
Mengapa kita tidak pernahberdo’a? Segala macam cara telah kita coba. Dan setiap dokter yang kita dengar, pasti kita ketuk pintunya. Maka, kenapa kita tidak mengetuk pintu Allah? Sedangkan Dia Maha Luas dan Maha dekat pintu-Nya.
Isteriku jadi ingat bahwa ia pernah dinasehati oleh seorang wanita tua, “Hendaknya kamu melazimi do’a!”
Namun, kata isteriku, waktu itu kami sedang memiliki jadwal konsultasi yang padat dengan beberapa orang dokter. Karena seringnya kami berkonsultasi, hal ini menjadi hal ynag biasa-biasa saja bagi kami. Tidak ada rasa cemas dan gelisah. Dan konsultasi itu pun terasa hambar.
Kami hanya mencari pengobatan yang terbatas saja. Satu faktor dari beberapa faktor.
Sekarang, kami menghadapkan wajah kami kepada Allah dengan sepenuh hati. Di setiap shalat fardlu dan di pertengahan malam. Kami memilih waktu-waktu yang mustajab.
Alhamdulillah, ini bukan angan-angan kosong. Dan do’a kami pun tidak ditolak. Allah telah membuka pintu pengabulan. Isteriku hamil dan melahirkan seorang anak.
Maha Suci Allah, sebaik-baik Pencipta
Kami tidak berhenti sekedar senang dan bahagia
Namun sekarang, kami senantiasa melafadzkan do’a:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا

“Wahai Rabb kami, karunialah kepada kami dari isteri-isteri kami dan anak-anak kami sebgai penyejuk pandangan kami. Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa!”
Continue reading JANGAN LUPA BERDOA

HADAPI HIDUP APA ADANYA

HADAPI HIDUP INI APA ADANYA !
Kondisi dunia ini penuh kenikmatan,
 banyak pilihan, penuh rupa, dan banyak warna.
 Semua itu bercampur baur dengan kecemasan dan kesulitan hidup.
 Dan, Anda adalah bagian dari dunia yang berada dalam kesukaran.

Anda tidak akan pernah menjumpai
 seorang ayah, isteri, kawan, sahabat, tempat tinggal, atau pekerjaan
 yang padanya tidak terdapat sesuatu yang menyulitkan.

Bahkan, kadangkala justru pada setiap hal …
 Terdapat sesuatu yang buruk dan tidak Anda sukai.
 Maka dari itu,
 “PADAMKANLAH PANASNYA KEBURUKAN PADA SETIAP HAL ITU
 DENGAN DINGINNYA KEBAIKAN YANG ADA PADANYA.”
 Itu kalau Anda mau selamat dengan adil dan bijaksana.
 Pasalnya, betapapun setiap luka ada harganya.

Allah menghendaki dunia ini…
 sebagai tempat bertemunya dua hal yang saling berlawanan,
 dua jenis yang saling bertolak belakang,
 dua kubu yang saling berseberangan,
 dan dua pendapat yang saling berseberangan.
 Yakni, yang baik dengan yang buruk,
 kebaikan dengan kerusakan,
 kebahagiaan dengan kesedihan.

Dan setelah itu, Allah akan mengumpulkan…
 semua yang BAIK, kebagusan dan kebahagian itu di SURGA.
 Adapun yang BURUK, kerusakan dan kesedihan akan dikumpulkan di NERAKA.

“Dunia ini terlaknat, dan terlaknat semua yang ada di dalamnya,
 kecuali dzikir kepada Allah dan semua yang berkaitan dengannya,
 seorang yang ‘alim dan seorang yang belajar,”
 begitu hadist berkata.

Maka, jalanilah hidup ini sesuai dengan kenyataan yang ada.
 Jangan larut dalam khayalan.
 Dan, jangan pernah menerawang ke alam imajinasi.
 Hadapi kehidupan ini apa adanya;
 kendalikan jiwa Anda untuk dapat
 menerima dan menikmatinya!

Bagaimanapun, tidak mungkin semua teman tulus kepada Anda
 dan semua perkara sempurna di mata Anda.
 Sebab, ketulusan dan kesempurnaan itu bukan ciri dan sifat kehidupan dunia.
 Bahkan, isteri Anda pun tak akan pernah sempurna di mata Anda.

Maka dalam hadist,
 “Janganlah seorang mukmin mencela seorang mukminah (isterinya),
 sebab jika dia tidak suka pada salah satu kebiasaannya
 maka dia bisa menerima kebiasaannya yang lain.”

Adalah seyogyanya bila kita merapatkan barisan-menyatukan langkah,
 saling memaafkan dan berdamai kembali,
 mengambil hal-hal yang mudah kita lakukan,
 meninggalkan hal-hal yang menyulitkan,
 menutup mata dari beberapa hal untuk saat-saat tertentu,
 meluruskan kangkah, dan mengesampingkan berbagai hal yang mengganggu.

YAKINILAH BAHWA ANDA TETAP MULIA BERSAMA PARA PENERIMA COBAAN!

Tengoklah kanan kiri…
 Tidakkah Anda menyaksikan betapa banyaknya orang yang sedang mendapat cobaan,
 dan betapa banyaknya orang yang sedang tertimpa bencana?

Telusurilah, di setiap rumah pasti ada yang merintih,
 dan setiap pipi pasti pernah basah oleh air mata.

Sungguh, betapa banyaknya penderitaan yang terjadi,
 dan betapa banyak pula orang-orang yang SABAR menghadapinya.
 Maka Anda bukan hanya satu-satunya orang yang mendapat cobaan.
 Bahkan, mungkin saja penderitaan atau cobaan Anda
 tidak seberapa bila dibandingkan dengan cobaan orang lain.

Berapa banyak di dunia ini orang yang terbaring SAKIT
 di atas ranjang selama bertahun-tahun
 dan hanya mampu membolak-balikkan badannya,
 lalu merintih kesakitan dan menjerit menahan nyeri.

Berapa banyak orang yang DIPENJARA selama bertahun-tahun
 tanpa pernah dapat melihat cahaya matahari sekalipun,
 dan ia hanya mengenal jeruji’jeruji selnya.

Berapa banyak orang tua yang harus KEHILANGAN buah hatinya,
 baik yang masih belia dan lucu-lucunya,
 atau yang sudah remaja dan penuh harapan.

Betapa banyaknya di dunia ini orang yang MENDERITA,
 mendapat ujian dan cobaan,
 belum lagi mereka yang harus setiap saat menahan himpitan hidup.

Kini, sudah tiba waktu Anda…
 untuk memandang diri Anda MULIA bersama mereka
 yang terkena MUSIBAH dan mendapat COBAAN.

Sudah tibapula waktu Anda untuk menyadari
 bahwasanya kehidupan di dunia ini merupakan PENJARA bagi orang-orang MUKMIN,
 tempat kesusahan dan cobaan.

Di pagi hari,
 istana-istana kehidupan penuh sesak dengan penghuninya,
 namun menjelang senja istana-istana itu ambruk menjadi reruntuhan.

Mungkin saat ini kekuatan masih prima, badan masih sehat,
 harta melimpah, dan keturunan banyak jumlahnya.
 Namun dalam hitungan hari saja semuanya bisa berubah:
 jatuh miskin, kematian datang secara tiba- tiba,
 perpisahan yang tak bisa dihindarkan, dan sakit yang tiba-tiba menyerang.

“Dan, telah nyata bagimu bagaimana Kami berbuat terhadap mereka
 dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan.”
 (QS. Ibrahim: 45)

Sebaiknya Anda MEMPERSIAPKAN DIRI
 sebagaimana kesiapan seekor unta berpengalaman
 yang akan mengiringi Anda menyeberangi padang sahara.

Bandingkan penderitaan Anda…
 dengan penderitaan orang-orang di sekitar Anda
 dan orang-orang sebelum Anda,
 niscaya Anda akan SADAR…
 bahwa Anda sebenarnya lebih beruntung dibanding mereka.
 Bahkan, Anda akan merasakan
 bahwa penderitaan Anda itu hanyalah duri-duri kecil yang tak ada artinya.
 Maka, panjatkan segala PUJIAN kepada Allah atas semua kebaikan-Nya itu,
 bersyukurlah kepada-Nya atas semua yang diberikan

Kepada Anda, bersabarlah atas semua yang diambil-Nya,
 dan yakinilah kemuliaan Anda bersama orang-orang menderita di sekitar Anda.
 Banyak suri tauladan Rasulullah s.a.w. yang perlu Anda contoh.

Syahdan, beliau pernah dilempar kotoran unta oleh orang-orang kafir Makkah,
 kedua kakinya dicederai dan wajahnya mereka lukai.
 Dikepung dalam suatu kaum beberapa lama…
 hingga beliau hanya dapat makan dedaunan apa adanya saja,
 diusir dari Makkah, dipukul gerahamnya hingga retak,
 dicemarkan kehormatan isterinya, tujuh puluh sahabatnya terbunuh,
 dan seorang putera serta sebagian besar puterinya meninggal dunia
 pada saat beliau sedang senang-senangnya membelai mereka.

Bahkan, karena terlalu laparnya,
 beliau pernah mengikatkan batu di perutnya untuk menahan lapar.
 Beliau pernah pula dituduh sebagai seorang penyair (bukan penyampai wahyu Allah),
 dukun, orang gila dan pembohong.
 Namun, belaiu tetap BERSABAR dan Allah MELINDUNGINYA dari semua itu.

Dan semua hal tadi merupakan COBAAN yang
 harus beliau hadapi dan PENYUCIAN JIWA yang tiada tara dan tandingannya.

Sebelum itu,
 Nabi Zakariya dibunuh kaumnya,
 Nabi Yahya dijagal,
 Nabi Musa diusir dan dikejar-kejar,
 dan Ibrahim dibakar.

Cobaan-cobaan itu juga menimpa para khalifah dan pemimpin kita;
 Umar r.a. dilumuri dengan darahnya sendiri,
 Utsman dibunuh diam-diam,
 dan Ali ditikam dari belakang.
 Dan masih banyak lagi para pemimpin kita
 yang juga harus menerima punggungnya penuh bekas cambukan,
 dijebloskan ke dalam penjara, dan juga dibuang ke negeri lain.

”Apakah kamu MENGIRA bahwa kamu akan MASUK SURGA?
 Padahal belum datang kepadamu (cobaan)
 sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?
 Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan,
 serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan)
 sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya:
 “Bilakah datangnya pertolongan Allah?”
 Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

 (QS. Al-Baqarah: 214)
Continue reading HADAPI HIDUP APA ADANYA

Buah Dari Ketulusan"


Ra'fat berobat untuk mencari kesembuhan. Banyak dokter dan rumah sakit ia kunjungi di Saudi Arabia sebagai ikhtiar. Namun meski sudah menyita banyak waktu, tenaga, pikiran dan biaya, sayangnya penyakit itu tidak kunjung sembuh juga. Ra'fat mulai mengeluh. Badannya bertambah kurus. Tak ubahnya seperti seorang pesakitan.

Demi mencari upaya sembuh, maka Ra'fat mengikuti saran dokter untuk berobat ke sebuah rumah sakit terkenal spesialis liver di Guangzhou, China. Ia berangkat ke sana ditemani oleh keluarga. Penyakit liver semakin bertambah parah. Maka saat Ra'fat diperiksa, dokter mengatakan bahwa harus diambil tindakan operasi segera. Ketika Ra'fat menanyakan berapa besar kemungkinan berhasilnya. Dokter menyatakan kemungkinannya adalah fifty-fifty.

"50% kalau operasi berhasil maka Anda akan sembuh, 50% bila tidak berhasil mungkin nyawa Anda adalah taruhannya!" jelas sang dokter.

Mendapati bahwa boleh jadi ia bakal mati, maka Ra'fat berkata, "Dokter, kalau operasi ini gagal dan saya bisa mati, maka izinkan saya untuk kembali ke negara saya untuk berpamitan dengan keluarga, sahabat, kerabat dan orang yang saya kenal. Saya khawatir bila mati menghadap Allah Swt namun saya masih punya banyak kesalahan terhadap orang yang saya kenal." Ra'fat berkata sedemikian sebab ia takut sekali atas dosa dan kesalahan yang ia perbuat.

Dengan enteng dokter membalas, "Terlalu riskan bagi saya untuk membiarkan Anda tidak segera mendapatkan penanganan. Penyakit liver ini sudah begitu akut. Saya tidak berani menjamin keselamatan diri Anda untuk kembali ke tanah air kecuali dalam 2 hari. Bila Anda lebih dari itu datang kembali ke sini, mungkin Anda akan mendapati dokter lain yang akan menangani operasi liver Anda."

Bagi Ra'fat 2 hari itu cukup berarti. Ia pun berjanji akan kembali dalam tempo itu. Serta-merta ia mencari pesawat jet yang bisa disewa dan ia pun pergi berangkat menuju tanah airnya.

Kesempatan itu betul-betul digunakan oleh Ra'fat untuk mendatangi semua orang yang pernah ia kenal. Satu per satu dari keluarga dan kerabat ia sambangi untuk meminta maaf dan berpamitan. Kepada mereka Ra'fat berkata, "Maafkan aku, Ra'fat yang kalian kenal ini sungguh banyak kesalahan dan dosa... Boleh jadi setelah dua hari dari sekarang saya sudah tidak lagi panjang umur..."

Itulah yang disampaikan Ra'fat kepada orang-orang. Dan setiap dari mereka menangis sedih atas kabar berita yang mereka dengar dari orang yang mereka cintai dan kagumi ini.

Ra'fat menyambangi satu per satu dari mereka. Meski dengan tubuh yang kurus tak berdaya, ia berniat mendatangi mereka untuk meminta doa dan berpamitan. Dan kondisi itu membuat Ra'fat menjadi sedih. Ia merasa menjadi manusia yang paling merana. Ia merasa tak berdaya dan tak berguna. Sering dalam kesedihannya ia membatin, "Ya Allah.... rupanya keluarga yang mencintai aku.... harta banyak yang aku miliki... perusahaan besar yang aku punya.... semuanya itu tidak ada yang mampu membantuku untuk kembali sembuh dari penyakit ini! Semuanya tak ada guna... semuanya sia-sia!"

Rasa emosi batin itu membuat tubuh Ra'fat bertambah lemah. Ia hanya mampu perbanyak istighfar memohon ampunan Tuhannya. Memutar tasbih sambil berdzikir kini menjadi kegiatan utamanya. Ia masih merasa bahwa dirinya adalah manusia yang paling merana di dunia.

Hingga saat ia sedang berada di mobilnya. duduk di kursi belakang dengan tangan memutar tasbih seraya berdzikir. Hanya Ra'fat dan supirnya yang berada di mobil itu. Mereka melaju berkendara menuju sebuah rumah kerabat dengan tujuan berpamitan dan minta restu. Saat itulah menjadi moment spesial yang tak akan terlupakan untuk Ra'fat.

Beberapa ratus meter di depan, mata Ra'fat melihat ada seorang wanita berpakaian abaya (pakaian panjang wanita Arab yang serba berwarna hitam) tengah berdiri di depan sebuah toko daging. di sisi wanita tadi ada sebuah karung plastik putih yang biasa menjadi tempat limbah toko tersebut. Wanita tadi mengangkat dengan tangan kirinya sebilah tulang sapi dari karung. Sementara tangan kanannya mengumpil dan mencuil daging-daging sapi yang masih tersisa di pinggiran tulang.

Ra'fat memandang tajam ke arah wanita tersebut dengan pandangan seksama. Rasa ingin tahu membuncah di hati Ra'fat tentang apa yang sedang dilakukan wanita itu. Begitu mobilnya melintasi sang wanita, sekilas Ra'fat memperhatikan. Maka ia pun menepuk pundak sang sopir dan memintanya untuk menepi.

Saat mobil sudah berhenti, Ra'fat mengamati apa yang dilakukan oleh sang wanita. Entah apa yang membuat Ra'fat menjadi penasaran. Keingintahuannya membuncah. Ia turun dari mobil. lemah ia membuka pintu, dan ia berjalan tertatih-tatih menuju tempat wanita itu berada.

Dalam jarak beberapa hasta Ra'fat mengucapkan salam kepada wanita tersebut namun salamnya tiada terjawab. Ra'fat pun bertanya kepada wanita tersebut dengan suara lemah, "Ibu..., apa yang sedang kau lakukan?"

Rupanya wanita ini sudah terlalu sering diacuhkan orang, hingga ia pun tidak peduli lagi dengan manusia. Meski ada yang bertanya kepadanya, wanita tadi hanya menjawab tanpa menoleh sedikitpun ke arah si penanya. Sambil mengumpil daging wanita itu berkata, "Aku memuji Allah Swt yang telah menuntun langkahku ke tempat ini. Sudah berhari-hari aku dan 3 orang putriku tidak makan. Namun hari ini, Dia Swt membawaku ke tempat ini sehingga aku dapati daging limbah yang masih bertengger di sisi tulang sisa. Aku berencana akan membuat kejutan untuk ketiga putriku malam ini. Insya Allah, aku akan memasakkan sup daging yang lezat buat mereka...."

Subhanallah. ...! bergetar hebat relung batin Ra'fat saat mendengar penuturan kisah kemiskinan yang ada di hadapannya. Tidak pernah ia menyangka ada manusia yang melarat seperti ini. Maka serta-merta Ra'fat melangkah ke arah toko daging. Ia panggil salah seorang petugasnya. Lalu ia berkata kepada petugas toko, "Pak..., tolong siapkan untuk ibu itu dan keluarganya 1 kg daging dalam seminggu dan aku akan membayarnya selama setahun!"

Kalimat yang meluncur dari mulut Ra'fat membuat wanita tadi menghentikan kegiatannya. Seolah tak percaya, ia angkat wajah dan menoleh ke arah Ra'fat. Kini mata wanita itu menatap dalam mata Ra'fat seolah ia berterima kasih lewat sorot pandang.

Merasa malu ditatap seperti itu, Ra'fat menoleh ke arah petugas toko. Ia pun berkata, "Pak..., tolong jangan buat 1 kg dalam seminggu, aku rasa itu tidak cukup. Siapkan 2 kg dalam seminggu dan aku akan membayarnya untuk setahun penuh!" Serta-merta Ra'fat mengeluarkan beberapa lembar uang 500-an riyal Saudi lalu ia serahkan kepada petugas tadi.

Usai Ra'fat membayar dan hendak meninggalkan toko daging, maka terhentilah langkahnya saat ia menatap wanita tadi tengah menengadah ke langit sambil mengangkat kedua belah tangannya seraya berdoa dengan penuh kesungguhan:

"Allahumma ya Allah... berikanlah kepada tuan ini keberkahan rezeki. Limpahkan karunia-Mu yang banyak kepadanya. Jadikan ia manusia mulia di dunia dan akhirat. Beri ia kenikmatan seperti yang Engkau berikan kepada para hamba-Mu yang shalihin. Kabulkan setiap hajatnya dan berilah ia kesehatan lahir dan batin.....dst"

Panjang sekali doa yang dibaca oleh wanita tersebut. Kalimat-kalimat doa itu terjalin indah naik ke langit menuju Allah Swt. Bergetar arsy Allah Swt atas doa yang dibacakan sehingga getaran itu terasa di hati Ra'fat. Ia mulai merasakan ketentraman dan kehangatan. Kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hampir saja Ra'fat menitikkan air mata saat mendengar jalinan indah kalimat doa wanita tersebut. Andai saja ia tidak merasa malu, pastilah buliran air mata hangat sudah membasahi pipinya. Namun bagi Ra'fat pantang menangis..., apalagi dihadapan seorang wanita yang belum ia kenal.

Ra'fat lalu memutuskan untuk meninggalkan wanita tersebut. Ia berjalan tegap dan cepat menuju mobilnya. Dan ia belum juga merasakan keajaiban itu! Ya, keajaiban yang ditambah saat Ra'fat membuka dan menutup pintu mobil dengan gagah seperti manusia sehat sediakala!!!

Sungguh doa wanita itu memberi kedamaian pada hati Ra'fat. Sepanjang jalan di atas kendaraan Ra'fat terus tersenyum membayangkan doa yang dibacakan oleh sang wanita tadi. Perjalanan menuju rumah seorang kerabat itu menjadi indah.

Sesampainya di tujuan lalu Ra'fat mengutarakan maksudnya. Ia berpamitan dan meminta restu. Ia katakan boleh jadi ia tidak lagi berumur panjang sebab sakit liver akut yang diderita.

Anehnya saat mendengar berita itu dari Ra'fat, sang kerabat berkata, "Ra'fat..., janganlah engkau bergurau. Kamu terlihat begitu sehat. Wajahmu ceria. Sedikit pun tidak ada tanda-tanda bahwa engkau sedang sakit."

Awalnya Ra'fat menganggap bahwa kalimat yang diucapkan kerabat tadi hanya untuk menghibur dirinya yang sedang sedih. Namun setelah ia mendatangi saudara dan kerabat yang lain, anehnya semuanya berpendapat serupa.

Dua hari yang dimaksud pun tiba. Ia didampingi oleh istri dan beberapa anaknya kembali datang ke China. Hari yang dimaksud untuk menjalani operasi sudah disiapkan. Sebelum masuk ruang tindakan, beberapa pemeriksaan pun dilakukan. Setelah hasil pemeriksaan itu dipelajari maka ketua tim dokter pun bertanya keheranan kepada Ra'fat dan keluarga: "Aneh....! dua hari yang lalu kami dapati liver tuan Ra'fat rusak parah dan harus dilakukan tindakan operasi. Tapi setelah kami teliti, mengapa liver ini menjadi sempurna lagi?!"

Kalimat dokter itu membuat Ra'fat dan keluarga menjadi bahagia. Berulangkali terdengar kalimat takbir dan tahmid di ruangan meluncur dari mulut mereka. Mereka memuji Allah Swt yang telah menyembuhkan Ra'fat dari penyakit dengan begitu cepat. Siapa yang percaya bahwa Allah yang memberi penyakit, maka ia pun akan yakin bahwa hanya Dia Swt yang mampu menyembuhkan. Jangan bersedih dan merasa hidup merana. Sadari bahwa dalam kegetiran ada hikmah bak mutiara!


Continue reading Buah Dari Ketulusan"

PENGORBANAN CINTA

Wanita paruh baya itu berperawakan pendek dan sedikit gemuk. Beberapa helai uban turut menghiasi mahkota kepalanya yang diikat dengan penjepit rambut. Namun raut wajah bulat telur itu seakan tak pernah sekalipun terlihat cemberut. Ia selalu tampak riang, sehingga menyembunyikan parasnya yang jelas telah digurati keriput.

Wanita itu memang tidak terlalu rentan, tetapi kekuatan dan kegesitan di masa mudanya niscaya telah direnggut usia. Karenanya, percayakah bahkan dari dirinya pun akan ada sebuah pelajaran tentang makna cinta?

* * *

Selalu…

Sabtu adalah hari yang ditunggu. Hari di mana nafas bisa dihela dengan panjang, dan sejenak mengistirahatkan raga dari rentetan kesibukan yang melelahkan. Saatnya pula untuk menikmati kebersamaan dengan seisi anggota keluarga. Sehingga, berbelanja di sebuah supermarket dekat rumah pun menjadi hiburan yang tak kalah meluahkan kebahagiaan.

Namun sepertinya tidak bagi wanita itu. Bagaikan tak mengenal hari libur, nyaris setiap waktu sosoknya selalu kutemui di sekitar kokusai kouryuu kaikan serta kampus.


Layaknya hari kerja, dikemasnya sampah-sampah yang berserakan serta dipisahkan antara yang terbakar dan tidak. Lantas ditaruhnya pada plastik yang berbeda warna. Sebentar kemudian diambilnya kain untuk mengelap kursi dan meja. Tak lupa, dengan vacuum cleaner dibersihkannya juga permukaan lantai. Setelah selesai ia segera beranjak ke toilet, lalu dengan mengenakan sarung tangan plastik dibersihkannya bekas kotoran manusia tersebut tanpa raut muka jijik.

Ia seperti tak peduli rasa lelah atau letih, walaupun terlihat pakaian seragam cleaning service biru mudanya telah basah bersimbah keringat. Tak juga kepenatan menyurutkan keramahannya untuk bertegur sapa dengan siapa saja saat bertemu muka.

Wanita itu entah siapa namanya. Hanya dengan panggilan obachan ia biasa disapa. Saat bersua denganku, juga selalu disempatkannya bertanya kabar. Bahkan ia pernah bercerita panjang lebar tentang anak-anak serta cucunya karena sering melihatku berjalan-jalan dengan keluarga. Beberapa kali pula saat usai kerja kulihat ia sedang berbelanja, masih lengkap dengan seragam biru mudanya. Lantas ditaruh barang-barang tersebut dikeranjang, dan perlahan dikayuhnya pedal sepeda tua untuk beranjak pulang.

Entahlah, rasanya tak ada perasaan iri dihatinya saat di hari libur ia ternyata harus bekerja, sementara aku justru berleha-leha. Ia bahkan tetap saja semangat bekerja dengan penuh suka cita. Begitu pula dengan obachan dan ojichan lain yang pernah kutemui, mereka selalu asyik menikmati pekerjaannya. Mencabut rumput liar di pekarangan kampus ketika musim panas, menyapu jalanan dari daun yang berserakan pada musim gugur, bahkan dengan bersusah payah turut menyerok tumpukan bongkahan salju di musim dingin.

Terlihat betapa bergairahnya mereka ketika memang waktunya harus bekerja. Gairah dalam bentuk kesungguhan dalam menekuni apapun jenis pekerjaan, yang mungkin tak dipandang orang walau dengan sebelah mata. Karenanya, tak terdengar ngalor-ngidul obrolan hingga jam istirahat tiba untuk sejenak melepaskan lapar dan dahaga. Berselang satu jam kemudian, mereka akan kembali sibuk menekuni pekerjaannya. Senantiasa egitu, dari waktu ke waktu.

Rutinitas mereka mungkin tidaklah istimewa. Bekerja demi memperoleh sedikit nafkah atau sekedar menghabiskan waktu luang, tentu lebih baik dari bermalas-malasan di rumah. Terlebih-lebih itu adalah pekerjaan kasar, bukan kerja kantoran yang menyenangkan dengan penyejuk atau pemanas ruangan.

Lalu mengapa mereka selalu saja bekerja seolah tak pupus oleh lelah? Bahkan bekerja bagaikan sebuah energi yang tak kunjung padam, mengalir dalam pembuluh darah serta menggerakkan jiwa dan raganya.

Sekejap akupun tepekur, kemudian mahsyuk merenung…

Dan kulihat ada gairah membara yang berpendar dari balik kerut-merut kelopak mata tua itu. Seolah sinar matanya menyiratkan pesan agar bekerjalah dengan cinta. Karena bila engkau tiada sanggup, maka tinggalkanlah. Kemudian ambil tempat di depan gapura candi untuk meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan suka cita
Continue reading PENGORBANAN CINTA

AKAL MANUSIA

Akal Manusia

Ada seekor kerbau yang setiap pagi dibawa oleh seorang anak penggembala yang masih kecil menuju sawah untuk dibajak. Jika tidak ada pekerjaan, kerbau itu oleh penggembala dibawa ke daerah yang banyak rumputnya. Kemana pun kerbau itu dibawa selalu saja nurut kepada majikannya yang seorang anak kecil.
Suatu saat, saat si kerbau sedang sendirian, ada seekor harimau menghampiri kerbau itu. Si harimau berkata kepada kerbau,
“Hey kerbau, saya sudah beberapa hari mengamati kamu. Kamu selalu nurut saja dibawa-bawa atau disuruh-suruh oleh majikan kecilmu. Manusia majikanmu itu sangat kecil dibanding kamu, kenapa tidak kamu tubruk saja, pasti dia terpental jauh atau mati. Kamu jadi bebas seperti saya, bebas kemana pun saya mau.”
“Saya takut kepada anak kecil itu”, jawab si kerbau.
“Ha ha ha, dasar bodoh kamu. Masa badan kamu yang besar takut kepada anak kecil?” ejek si harimau sambil menertawakan.
“Kamu juga akan takut jika kamu mengetahui kelebihan manusia” kata si kerbau menjelaskan.
“Apa sih kelebihan manusia itu, koq bisa membuat kamu takut?” tanya si harimau penasaran.
Tidak lama kemudian, anak penggembala tersebut datang. Langsung saja si harimau menyapanya.
“Hey anak manusia!! Kata si kerbau kamu mempunyai kelebihan yang membuat dia takut. Apa itu?”
Anak pengembala itu menjawab, “Saya sebagai manusia diberikan kelebihan oleh Pencipta, yaitu berupa akal yang tidak dimiliki oleh makhluq lainnya”
“Akal itu apa, boleh saya melihat akal kamu? Jika kamu tidak menunjukkan, saya akan memakan kamu.” tanya harimau sambil mengancam.
“Wah saya tidak bisa memperlihatkannya, karena akal saya tertinggal di rumah”
“Kalau begitu kamu ambil dulu.” kata si harimau dengan nada mendesak.
“Saya bisa saja mengambilnya, tetapi percuma. Kamu akan lari.” Jawab pengembala tidak mau kalah.
“Saya janji, saya tidak akan lari” kata harimau dengan percaya diri.
“Sekarang kamu berkata demikian, setelah melihat saya membawa akal, kamu pasti lari. Bagaimana kalau kamu saya ikat? Supaya kamu tidak lari nanti.”
“Setuju” jawab harimau.
Kemudian si anak penggembala tersebut mengikat harimau tersebut di sebuah pohon. Bukan saja tidak bisa lari, tetapi sampai tidak bisa bergerak leluasa. Setelah mengikat si anak pun pergi.
Kerbau yang mengamati dari tadi tertawa, melihat nasib harimau.
“Sekarang kamu bisa apa?” tanya si kerbau. Harimau tidak bisa menjawab, dia panik dan ingin melepaskan diri tetapi tidak bisa.
“Itulah akal manusia, he he” kata si kerbau sambil pergi mengikuti majikannya.


Continue reading AKAL MANUSIA

Sabtu, 07 Maret 2020

CANGKIR YANG CANTIK
Sepasang  kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. “Lihat  cangkir  itu,”  kata  si nenek kepada suaminya. “Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat,” ujar si kakek.
Saat  mereka  mendekati  cangkir  itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara “Terima  kasih  untuk  perhatiannya,  perlu  diketahui  bahwa  aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok  tanah liat yang  tidak  berguna.  Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar.

Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop  ! Aku berteriak,  Tetapi  orang  itu  berkata  “belum  !”  lalu ia mulai menyodok  dan meninjuku  berulang-ulang. Stop! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku,  tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku  ke  dalam  perapian.  Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata “belum !”
Akhirnya  ia  mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku  pikir,  selesailah  penderitaanku.  Oh  ternyata  belum. Setelah dingin aku diberikan  kepada  seorang  wanita  muda  dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak.
Wanita  itu  berkata “belum !” Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan  aku  lagi  ke  perapian  yang  lebih panas dari sebelumnya! Tolong ! Hentikan  penyiksaan  ini  !  Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang  ini  tidak  peduli  dengan teriakanku.Ia  terus membakarku. Setelah puas “menyiksaku” kini aku dibiarkan dingin.
Setelah  benar-benar  dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku  dekat  kaca.  Aku  melihat  diriku.  Aku  terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya,  karena  di  hadapanku  berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.
***
Sahabat,  dalam kehidupan ini adakalanya kita seperti  disuruh berlari, ada kalanya kita seperti digencet permasalahan kehidupan. Tapi sadarlah bahwa lakon-lakon itu merupakan cara Tuhan untuk membuat kita kuat. Hingga cita-cita kita tercapai. Memang pada saat itu tidaklah  menyenangkan,  sakit,  penuh  penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah  satu-satunya  cara  untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan.
“Sahabat,  anggaplah  sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab  Anda tahu bahwa ujian  terhadap  kita menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya Anda menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”

Apabila  Anda  sedang  menghadapi  ujian  hidup, jangan kecil hati, karena akhir dari apa yang sedang anda hadapi adalah kenyataan bahwa anda lebih baik, dan makin cantik dalam kehidupan ini.
Continue reading

Jumat, 06 Maret 2020

Kakek Memindahkan Gunung
Alkisah, di sebuah desa terpencil, tinggallah seorang kakek bersama dengan keluarga besarnya. Desa tempat mereka tinggal itu terletak di antara dua gunung besar. Bila keluarga sang kakek itu hendak pergi ke desa lain, mereka harus berjalan kaki berhari-hari lamanya memutari gunung. Tentu itu sangat melelahkan dan menyita banyak waktu.
Suatu saat, sang kakek tua dengan pemikirannya yang lugu dan sederhana mengemukakan tekadnya. Ia mengajak segenap keluarganya untuk bahu-membahu memindahkan gunung. Pada hari yang telah ditentukan, keluarga sang kakek pun mulai menggali tanah lereng gunung. Hari demi hari dipenuhi dengan bekerja menggali-menggali dan menggali lereng gunung. Melihat kesibukan tersebut, beberapa hari kemudian para tetangga berdatangan. Salah seorang pemuda begitu penasaran dan bertanya pada si kakek.
"Kakek dan seluruh keluarga besar setiap hari terlihat begitu sibuk! Dari pagi sampai sore, menggali lereng gunung. Sebenarnya, apa maksud dan tujuan kakek?"
Si kakek menghentikan kerjanya. "Kami menggali untuk memindahkan gunung ini, Nak," jawabnya mantap.
"Hah, memindahkan gunung?? Mana mungkin, Kek?!" tanya si pemuda tidak percaya.
"Gunung sebesar itu kok mau dipindahkan," lanjutnya. "Kakek kan sudah tua. Saya yakin, sebelum gunung bisa dipindahkan, kakek pasti sudah meninggal lebih dulu. Dengan begitu, bukankah kakek mengerjakan sesuatu yang sia-sia belaka?"
Si kakek menjawab dengan lantang, "Kakek memang sudah tua. Tapi bila kakek meninggal, ada anak-anak yang meneruskan, ada cucu-cucu yang akan menggantikan, begitu seterusnya... Selama kami punya tekad, mau bekerja keras, penuh kesungguhan hati, dan konsisten, kakek yakin suatu hari kelak, gunung ini pasti bisa dipindahkan. Dan jalan kehidupan kita semua akan lebih mudah!"

Tekad si kakek dan keluarganya yang begitu kuat, menggoyahkan hati masyarakat sekitar situ. Maka, mereka pun berbondong-bondong bergantian, dengan peralatan yang seadanya, bahu membahu mulai ikut bersama-sama bekerja menggali lereng gunung itu.
Singkat cerita, hati para dewa di khayangan pun akhirnya tergerak ketika melihat tekad si kakek dan semangat warga desa. Kemudian, mereka sepakat membantu sang kakek untuk memindahkan gunung itu. Dan haaap, tangan para dewa sibuk melambai bekerja sama. Dalam sekejap, terjadilah keajaiban! Gunung pun berpindah tempat dan jalan terbentang luas menuju kemana pun masyarakat desa itu hendak pergi.
Netter yang luar biasa,
Di Tiongkok, kisah legenda ini terkenal dengan sebutan "Kisah si Kakek Bodoh Memindahkan Gunung."

Walau cerita itu hanya sekadar legenda, namun pesan moral tentang kekuatan tekad dan kesungguhan hati ini sungguh luar biasa!! Kita tahu, kemajuan peradaban manusia tidak akan seperti sekarang, jika dunia ini tidak dihuni oleh manusia-manusia yang memiliki tekad seperti kakek tua tadi. Saat ini, tak terhitung jumlah penemuan baru dan teknologi modern sebagai karya-karya spektakuler dari manusia-manusia bertekad baja. Sulit dibayangkan, apa jadinya dunia ini jika tidak ada manusia-manusia yang memiliki cita-cita besar, tekad membaja, konsistensi, dan persistensi yang luar biasa.
Legenda di atas mengajarkan kepada kita, bahwa kemajuan pribadi-pribadi, kemajuan masyarakat, dan kemajuan sebuah bangsa sangat dipengaruhi oleh kekuatan tekad. Tekad merupakan sumber motivasi yang menggerakkan manusia menuju cita-citanya. Tekad merupakan kekayaan sekaligus modal bagi kemajuan dan kemakmuran. Bagi mereka yang memiliki tekad yang sangat kuat, tidak ada yang mustahil di dunia ini. Nothing is impossible under the sun.
Selama memiliki tekad, kesungguhan hati, keyakinan dan konsistensi, kita akan mampu mewujudkan apa yang kita cita-citakan.
Miliki tekad dan ciptakan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin!

Salam sukses, LUAR BIASA!
_______________  
Continue reading

Pernah mengajari anak balita untuk meminta maaf

Pernah mengajari anak balita untuk meminta maaf?  Setelah ‘berantem’ dengan temannya,  mungkin Anda hanya mengatakan, “Ayo baikkan!”, atau “Ayo minta maaf!” Bisakah mereka melakukannya? Mereka pasti tidak mengerti maksud Anda. Saya punya sebuah pengalaman bahwa mengajari meminta maaf kepada si kecil, bisa berhasil.

Suatu hari, seperti biasa saya memandikan putri saya, Syanita (hampir 3 tahun).  Dia masih senang menggunakan bak mandi plastik.  Selesai mandi, saya bersihkan baknya.  Syanita yang sudah memakai handuk, menunggu saya.  Biasanya ia masih bermain dengan bebeknya.  Tapi pagi itu saya kaget, karena ia bermain dengan sabun.

Tangannya disabuni lagi. Wah, saya kesal. Langsung saya rebut sabunnya dengan kasar.  Saya pukul tangannya. Saya basuh tangannya dengan air dingin.  Ia kaget. Menangis keras.  Saya gendong dia masuk ke kamar. Mengeringkan badannya dan mendandani seperti biasa.  Ia terus meraung-raung, meronta, membuat saya tambah marah.

“Nggak boleh main sabun! Jangan nangis! Diem! Cepet pake baju, dingin!” Kata-kata itulah yang keluar dari mulut saya, sementara puri saya terus menangis.  Anak saya juga berteriak, “Ibu nakal! Ibu nakal!” Akhirnya saya mengalah. “Iya, ibu nakal!” Biasanya memang seperti itu.  Kalau saya sudah mengaku nakal, nangisnya berhenti.

Kejadian pagi itu sudah hilang dari ingatan saya.  Tapi, rupanya tidak begitu bagi putri saya.  Ia masih ‘dendam’.  Ketika diajak tidur siang, dia menolak.  Saya paksa dia tidur, dia malah minta jalan-jalan. Tapi saya tidak marah. Disuapi makan sore, malas-malasan.  Saya pun tidak marah.

Akhirnya ia mau makan.  Tapi seharian itu ia memang terlihat uring-uringan, membuat saya sangat cape.  Seharian itu ia tidak tidur siang, sehingga saya ingin cepat membuatnya tidur agar istirahatnya cukup.  Rencananya, sehabis sholat Magrib saya akan menidurkannya.  Setelah selesai sholat,  biasanya anak saya akan mencium tangan saya dan saya mendoakannya.  Tapi saat itu, anak saya diam saja.  Rupanya ia masih ‘dendam’ kepada saya.

Ia bahkan tidak ikut sholat bersama.  Tiba-tiba saya berinisiatif, saya raih tangan mungilnya.  Saya cium tangannya dan saya berkata dengan lembut kepadanya.  “Ani, maafin ibu ya…, tadi ibu bikin Ani sedih ya? Ani sedih dipukul tangannya sama ibu?”  Dia mengangguk lalu memeluk saya.  Hmm… saya merasa benar-benar bersalah.

Karena itu saya ulangi lagi meminta maaf kepada anak saya.  “Ani maafin ibu ya!”  Kali ini dia menangis. Saya gendong Syanita,  membaringkannya di tempat tidur.  Setelah membuka mukena, saya ikut berbaring di sebelahnya.

Ani yang kecapean karena tidak tidur siang rupanya benar-benar sudah ingin tidur.  Tapi hatinya baru terasa nyaman setelah ucapan maaf mengalir dari mulut saya.  Saya jadi merasa sangat bersalah.  Saya tepuk-tepuk pantatnya.  Saya tawarin untuk bercerita.  Dia mengangguk.  Maka saya pun bercerita, dan ia langsung tertidur sambil memeluk saya.

Keesokan harinya entah kenapa anak saya sulit diatur.  Pagi-pagi setelah mandi, ia ingin memakai baju piyama.  Ia menangis memaksa saya memakaikan piyama. Setelah berkali-kali dijelaskan bahwa baju piyama untuk dipakai sore sebagai baju tidur akhirnya anak saya menyerah.  Tapi ia masih marah-marah.  Siang hari Syanita masih membuat saya jengkel karena mau main di luar pada jam tidur siang.  Saya tidak memarahinya sama sekali.

Saya turuti permintaan ‘aneh’nya hari itu-jalan-jalan di siang hari.  Tapi, ia tetap tidur siang, meskipun sudah agak sore.  Saya memang menggerutu karena kesal dan mengadu kepada kakeknya soal tingkah laku Syanita.  Ketika Maghrib, ia menolak sholat bersama.  Tetapi ia memerhatikan sholat saya.  Setelah saya selesai sholat, ia lari mendekat dan mencium tangan saya.  Lalu ia berkata. “Ibu, maafin Ani ya…!” Saya terperanjat.

“Hah, anak sekecil ini meminta maaf dengan cara begini? Dari mana ia belajar bersikap seperti ini?”, hati saya bertanya-tanya.  Ingatan saya langsung kembali pada peristiwa kemarin.  Saya terpana.  “Oh, jadi ia ingat kemarin saya meminta maaf dengan cara seperti ini.  Dan sekarang ia meminta maaf karena telah membuat saya jengkel sejak pagi sampai sore.”


Saya tidak bisa menjawab permintaan maaf anak saya.  Segera saya peluk Syanita sambil saya ciumi pipinya.  “Anak  pinter!”  Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut saya.  Syanita telah belajar meminta maaf dari cara saya meminta maaf yang saya lakukan terhadapnya
Continue reading Pernah mengajari anak balita untuk meminta maaf

Gusti Allah ora sare

Gusti Allah ora sare
Malam telah larut saat saya meninggalkan kantor. Telah lewat pukul 11 malam.
Pekerjaan yang menumpuk, membuat saya harus pulang selarut ini. Ah, hari yang
menjemukan saat itu. Terlebih, setelah beberapa saat berjalan, warna langit
tampak memerah. Rintik hujan mulai turun. Lengkap sudah, badan yang lelah
ditambah dengan “acara” kehujanan.
Setengah berlari saya mencari tempat berlindung. Untunglah, penjual nasi goreng
yang mangkal di pojok jalan, mempunyai tenda sederhana. Lumayan, pikir saya.
Segera saya berteduh, menjumpai bapak penjual yang sendirian, ditemani rokok dan
lampu petromak yang masih menyala. Dia menyilahkan saya duduk. “Disini saja dik,
daripada kehujanan…,” begitu katanya saat saya meminta ijin berteduh.

Benar saja, hujan mulai deras, dan kami makin terlihat dalam kesunyian yang
pekat. Karena merasa tak nyaman atas kebaikan bapak penjual dan tendanya, saya
berkata, “tolong bikin mie goreng pak, di makan disini saja. Sang Bapak
tersenyum, dan mulai menyiapkan tungku apinya. Dia tampak sibuk. Bumbu dan
penggorengan pun telah siap untuk di racik. Tampaklah pertunjukkan sebuah
pengalaman yang tak dapat diraih dalam waktu sebentar. Tangannya cekatan sekali
meraih botol kecap dan segenap bumbu.
Segera saja, mie goreng yang mengepul telah terhidang. Keadaan yang semula
canggung mulai hilang. Basa-basi saya bertanya, “Wah hujannya tambah deras nih,
orang-orang makin jarang yang keluar ya Pak?” Bapak itu menoleh ke arah saya,
dan berkata, “Iya dik, jadi sepi nih dagangan saya..” katanya sambil menghisap
rokok dalam-dalam.
“Kalau hujan begini, jadi sedikit yang beli ya Pak?” kata saya, “Wah, rezekinya
jadi berkurang dong ya?” Duh. Pertanyaan yang bodoh. Tentu saja, tak banyak yang
membeli kalau hujan begini. Tentu, pertanyaan itu hanya akan membuat Bapak itu
tambah sedih. Namun, agaknya saya keliru…
“Gusti Allah, ora sare dik, (Allah itu tidak pernah istirahat), begitu katanya.
“Rezeki saya ada dimana-mana. Saya malah senang kalau hujan begini. Istri sama
anak saya di kampung pasti dapat air buat sawah. Yah, walaupun nggak lebar, tapi
lumayan lah tanahnya.” Bapak itu melanjutkan, “Anak saya yang disini pasti bisa
ngojek payung kalau besok masih hujan…”
Degh. Dduh, hati saya tergetar. Bapak itu benar, “Gusti Allah ora sare”. Allah
Memang Maha Kuasa, yang tak pernah istirahat buat hamba-hamba-Nya. Saya rupanya
telah keliru memaknai hidup. Filsafat hidup yang saya punya, tampak tak ada
artinya di depan perkataan sederhana itu. Makna nya terlampau dalam, membuat
saya banyak berpikir dan menyadari kekerdilan saya di hadapan Tuhan.
Saya selalu berpikiran, bahwa hujan adalah bencana, adalah petaka bagi banyak
hal. Saya selalu berpendapat, bahwa rezeki itu selalu berupa materi, dan hal
nyata yang bisa digenggam dan dirasakan. Dan saya juga berpendapat, bahwa saat
ada ujian yang menimpa, maka itu artinya saya cuma harus bersabar.
Namun saya keliru. Hujan, memang bisa menjadi bencana, namun rintiknya bisa
menjadi anugerah bagi setiap petani. Derasnya juga adalah berkah bagi
sawah-sawah yang perlu diairi. Derai hujan mungkin bisa menjadi petaka, namun
derai itu pula yang menjadi harapan bagi sebagian orang yang mengojek payung,
atau mendorong mobil yang mogok.
Hmm…saya makin bergegas untuk menyelesaikan mie goreng itu. Beribu pikiran
tampak seperti lintasan-lintasan cahaya yang bergerak di benak saya. “Ya Allah,
Engkau Memang Maha yang Tak Pernah Beristirahat” Untunglah, hujan telah reda,
dan sayapun telah selesai makan. Dalam perjalanan pulang, hanya kata itu yang
teringat, Gusti Allah Ora Sare….Gusti Allah Ora Sare…


Continue reading Gusti Allah ora sare

…Gratis semua

…Gratis semua

Suatu sore, seorang anak menghampiri ibunya di dapur. Ia menyerahkan selembar kertas yang telah ditulisinya. Setelah sang ibu mengeringkan tangannya dengan celemek. Ia pun membaca tulisan itu dan inilah isinya:
Untuk memotong rumput Rp. 5000
Untuk membersihkan kamar tidur minggu ini Rp. 5000
Untuk pergi ke toko disuruh ibu Rp. 3000

Untuk menjaga adik waktu ibu belanja Rp. 5000

Untuk membuang sampah Rp. 1000
Untuk nilai yang bagus Rp. 3000
Untuk membersihkan dan menyapu halaman Rp. 3000
Jadi jumlah utang ibu adalah Rp. 25000
Sang ibu memandangi anaknya dengan penuh harap. Berbagai kenangan terlintas dalam benak sang ibu. Lalu ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya. Dan inilah yang ia tuliskan:
Untuk sembilan bulan ibu mengandung kamu, gratis
Untuk semua malam ibu menemani kamu, gratis
Untuk membawamu ke dokter dan mengobati saat kamu sakit, serta mendoakan kamu, gratis
Untuk semua saat susah dan air mata dalam mengurus kamu, gratis
Kalau dijumlahkan semua, harga cinta ibu adalah gratis
Untuk semua mainan, makanan, dan baju, gratis
Anakku… dan kalau kamu menjumlahkan semuanya,
Akan kau dapati bahwa harga cinta ibu adalah GRATIS
Seusai membaca apa yang ditulis ibunya, sang anak pun berlinang air mata dan menatap wajah ibunya, dan berkata: “Bu, aku sayang sekali sama ibu” ia kemudian mendekap ibunya. Sang ibu tersenyum sambil mencium rambut buah hatinya.”Ibupun sayang kamu nak” kata sang ibu.
Kemudian sang anak mengambil pulpen dan menulis sebuah kata dengan huruf-huruf besar sambil diperhatikan sang ibu: “LUNAS”
======
sahabat, seberapapun jasa yang tlah kita berikan kepada ibu, seberapapun uang yang kita dapatkan dan kita berikan kepada ibu, atau seberapapun liter keringat kerja yang kita kumpulkan untuk ibu, tidak akan dapat mengganti kasih sayang seorang ibu.Kasih ibu sepanjang masa. dapatkah kita menukar kasih sayang ibu itu dengan materi? menukar dengan bilangan angka?atau menukar dengan rangkaian kata terima kasih  sepanjang Salatiga – Roma? Tidak sahabat, sama sekali tidak bisa. Oleh karenanya sahabatqu, Berbuat baiklah kepadanya, sayangilah beliau, cintailah beliau, dan doakanlah beliau….
Sahabat, kita beruntung masih diberi kesempatan untuk mencium tangannya, mencium pipinya, memijit kakinya, membuatkan minuman untuknya dan menunjukkan sayang kita kepadanya.  semoga kita dapat terus melayani beliau, di dunia ini, maupun di surga nanti amiin








Continue reading …Gratis semua